Dalam pengertian umum, yang namanya wasiat diartikan
sebagai pesan terakhir sebelum orang yang memberi wasiat itu hendak wafat.
Isinya bisa berupa nasihat atau pengumuman yang berkaitan dengan harta benda.
Dalam Islam, wasiat hukumnya wajib sebagaimana
perintah Allah Subhaanahu wa ta’ala dalam
Al-Qur'an. Allah Subhaanahu wa ta’ala
berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ
أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ
وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
“Diwajibkan atasmu, apabila seorang di antara kamu
mendapatkan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak,
berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah)
kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah 180).
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَا
حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ
لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيِّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ
“Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki
sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya
itu tertulis di sisinya.” (Muttafaq-alaih)
Wasiat yang tidak menyangkut masalah harta, tapi
berupa pesan-pesan moral kepada keluarga, kerabat dan umat manusia inilah yang
dipilih oleh salah satu khulafaur rasyidin dan sahabat terdekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Berikut wasiat beliau yang bisa dijadikan ibrah
sekaligus muhasabah bagi kita semua.
“Dengan menyebut nama Allah yang Mahapengasih lagi
Mahapenyayang, ini adalah wasiat Ali bin Abi Thalib; bahwasannya dia bersaksi
tiada ilah yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu baginya. Dan bahwasannya Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya, yang telah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dien yang haq
agar mengatasi segala agama, walaupun orang-orang musyrikin benci. Kemudian
setelah itu, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku termasuk seorang muslim.
“Aku wasiatkan kepadamu Hai Hasan, juga kepada seluruh
putera-puteri, istri-istriku dan siapa saja yang sampai kepadanya wasiatku ini,
agar bertakwa kepada Allah dan janganlah sesekali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam. Berpegang teguhlah kalian seluruhnya dengan tali Allah
dan janganlah berpecah belah, sesungguhnya aku mendengan Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
mendamaikan dua pihak yang berselisih lebih utama daripada ibadah shalat dan
puasa.
“Perhatikanlah hak-hak karib kerabatmu, sambunglah
tali silaturrahim dengan mereka, niscaya Allah akan meringankan hisabmu.
Jagalah hak anak-anak yatim! Jangan sampai mulut mereka tidak berisi makanan
(jangan sampai mereka kelaparan). Janganlah mereka terlantar di hadapan kalian.
Peliharalah hak-hak tetanggamu, sesungguhnya nabi kalian telah berwasiat agar
berbuat baik kepada tetangga. Beliau senantiasa mewasiatkannya sehingga kami
mengira beliau akan memberi hak waris bagi tetangga.
“Jagalah hak-hak Al-Qur’an, janganlah kalian
didahului orang lain dalam mengamalkannya, jagalah ibadah shalat karena shalat
adalah tiang agama kalian. Jagalah hak-hak rumah Rabb kalian (masjid),
janganlah sampai kosong selama kalian masih hidup. Sesungguhnya apabila kalian
meninggalkannya, niscaya kalian tidak akan dihiraukan.
“Peliharalah ibadah bulan Ramadhan karena berpuasa
pada bulan Ramadhan adalah perisai dari api neraka. Peliharalah jihad fi
sabilillah dengan harta dan jiwa kalian. Jagalah pembayaran zakat karena zakat
dapat memadamkan kemarahan Ar-Rabb Subhaanahu wa ta’ala.
Jagalah hak orang-orang yang dilindungi oleh nabi kalian, sesungguhnya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mewasiatkan agar menjaga hak-hak mereka. Jagalah hak-hak kaum fakir
miskin, berilah mereka dari sebagian rezeki kalian. Jagalah hak-hak budak yang
kalian miliki. Karena itulah pesan terakhir yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Aku
mewasiatkan agar kalian memperhatikan dua manusia yang lemah, yakni wanita dan
budak-budak yang kalian miliki.
“Jagalah ibadah shalat, jagalah ibadah shalat,
janganlah kalian takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela dalam
menegakkan agama Allah, niscaya kalian akan terhindar dari kejahatan
orang-orang yang bermaksud jahat kepadamu dan ingin berlaku semena-mena
terhadapmu, berkatalah kepada manusia dengan perkataan yang baik seperti yang
telah Allah perintahkan kepadamu. Berkatalah kepada manusia dengan perkataan
yang baik seperti yang telah Allah perintahkan kepadamu. Janganlah kalian
tinggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, jika tidak maka orang-orang yang jahat
akan berkuasa atas kalian sehingga doa kalian tidak dikabulkan.
“Hendaklah kalian saling menyambung ikatan dan
saling memberi dan hindarilah saling membelakangi, saling memutus hubungan dan
berpecah belah. Bertolong-tolonganlah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan,
janganlah bertolong-tolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahakeras siksa-Nya. Semoga Allah menjaga
kalian, dan semoga Allah menjaga nabi kalian di tengah-tengah kalian. Aku
ucapkan selamat berpisah. Wassalamu’alaikum wa rahmatullah.” (Al-Bidayah
wan Nihayah, Ibnu Katsir, 11/16-17)
Oleh: Muhammad Arief
(ilustrasi: emaan library)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar