"Cinta dunia adalah biang dari segala dosa"


"Ilmu yang Bermanfaat adalah yang Membantumu Taat kepada Allah, Membuatmu Takut kepada Allah, dan Menjagamu dari Rambu-Rambu-Nya."

Masuk Surga Karena Amal Ibadah Atau Rahmat Allah?

Mukaddimah

Apakah seseorang bisa masuk surga hanya karena amal ibadahnya tanpa rahmat Allah atau hanya dengan rahmat Allah tanpa amal ibadah? Banyak kaum Muslimin keliru dalam memahami perkara ini, oleh sebab itu diperlukan penjelasan rinci berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berikut adalah rinciannya. Semoga bermanfaat.



Masuk Surga karena Amal Ibadah

Allah ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan Tuhan kepada mereka; dan Tuhan memelihara mereka dari azab neraka. Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah. Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Ath-Thuur 17-21)

“Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.” (Al-Waaqi'ah 22-24)

“(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan." (An-Nahl 32)

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapat surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala atas apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajdah 19)

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan.” (Az-Zukhruf 72)

Baa’ dalam kalimat ‘bimaa kuntum ta’maluun/bimaa kaanuu ya’maluun’ adalah baa’ sababiyyah, yang menunjukkan bahwa amal-amal shalih menjadi sebab pelakunya masuk ke dalam surga. Orang-orang yang dimatikan Allah dalam keadaan merugi, sangat berharap diberi kesempatan hidup kembali hanya untuk berbuat amal kebaikan yang dengannya ia dapat masuk ke dalam surga.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mukminuun 99-100)

“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (As-Sajdah 12)

Adapun dalil-dalil dari hadits Nabi sangatlah banyak. Beliau sangat sering bersabda tentang amal-amal shalih yang dapat menyebabkan pelakunya masuk ke dalam surga. Di antaranya: Dari Abu Ayyuub bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi : “Beritahukanlah kepadaku satu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga”. Seseorang berkata: “Apa yang ia miliki, apa yang ia miliki?” Beliau menjawab: “Agaknya yang ia tanyakan penting baginya. Amal yang dapat memasukkanmu ke dalam surga adalah engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturrahim.” (HR. Bukhari No.1396, 5982, dan 5983, HR. Muslim No.13).

Dari Muadz Bin Jabbal, ia berkata: “Aku pernah bersama Nabi dalam satu perjalanan. Lalu suatu ketika aku berada di dekat beliau, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku satu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka. Lalu beliau bersabda: “Sungguh engkau bertanya tentang sesuatu yang besar. Padahal ia sebenarnya mudah dilakukan bagi siapa saja yang dimudahkan oleh Allah, yaitu engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji.” (HR. Ahmad 5/231, At-Tirmidzi 2616, An-Nasaa’I dalam Al Kubraa No. 11394, dan Ibnu Majah No. 3973, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/42-43).

Dari Abu Musa, bahwasanya Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang shalat pada dua waktu dingin (Subuh dan Ashar), niscaya masuk surga” (HR. Bukhari No. 574 dan HR. Muslim No. 635).

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasululllah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitungnya, niscaya ia masuk surga” (HR. Bukhari No.6410 dan HR. Muslim No. 2677)

Masuk Surga karena Rahmat Allah

Kemudian, timbul kemusykilan dengan adanya beberapa hadits yang menyatakan amalan tidak menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga, melainkan dengan rahmat (kasih sayang) Allah, di antaranya:

Dari Jaabir, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang amalannya memasukkannya ke dalam surga dan melindunginya dari neraka. Tidak juga aku, kecuali dengan rahmat dari Allah,” (HR. Muslim No. 2817)

Dari ‘Aisyah, dari Nabi , beliau bersabda: “Beramallah sesuai sunnah (istiqomah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya”. Para shahabat berkata: “Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Begitu juga denganku, namun Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari No. 6464 dan 6467 dan Muslim No, 2818).

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi , bahwa ia mendengar beliau bersabda: “Tidaklah seorang pun dari kalian yang diselamatkan oleh amalnya.” Seseorang bertanya: Tuan juga wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya padaku, tapi ikutilah kebenaran.” (HR. Muslim No.5036)

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi , bahwa beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya.” Dikatakan: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat padaku.” (HR. Muslim No. 5037)

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi , bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang pun dari kalian yang diselamatkan oleh amalnya.” Seseorang bertanya: Tuan juga, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat padaku.” Ibnu Aun menunjukkan tangan ke kepalanya dan berkata: Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahkan ampunan dan rahmat padaku. (HR. Muslim No. 5038)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Tidaklah seorang pun dari kalian yang diselamatkan oleh amalnya. Seseorang bertanya: Tuan juga, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila rahmat dari-Nya menjemputku.” (HR. Muslim No.5039)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Tidak ada seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya. Dikatakan: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab. Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan karunia dan rahmat padaku.” (HR. Muslim No. 5040)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Mendekatlah, tujulah kebenaran, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya tak seorang pun dari kalian yang selamat karena amalnya.” Mereka bertanya: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat dan karunia padaku.” (HR. Muslim No. 5041)

Dari Jaabir, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda: “Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah.” (HR. Muslim No. 5042)

Dari ‘Aisyah, dari Nabi , beliau bersabda: “Tujulah (kebenaran), mendekatlah dan bergembiralah bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya.” Mereka bertanya: Tidak juga Tuan, wahai Rasululllah? Beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan rahmat dan karunia padaku. Dan ketahuilah bahwa amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit.” (HR. Muslim No. 5043)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi bersabda: “Tidak ada seseorang yang dimasukkan ke surga oleh amalnya.” Lalu ada yang bertanya: “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak pula saya, kecuali Tuhanku melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari No. 5673, 6463 dan Muslim No. 2816).

Jawaban Kemusykilan:

Untuk menjawab kemusykilan di atas, prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah tidak ada dan tidak akan pernah ada pertentangan antara ayat Al-Qur’an dan hadits shahih. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “As-Sunnah tidak mungkin menyelisihi Al-Qur’an selamanya.” (Jamaa’ul ‘Ilm No. 530).

Beberapa ulama mencoba menjelaskan pemahaman dengan penjamakan antara nash-nash tersebut.

1. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dan (makna) dalam dhahir hadits-hadits ini merupakan petunjuk bagi ahlul-haq bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan pahala dan surga karena ketaatannya. Adapun firman Allah ta’ala: “Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Az-Zukhruf 72) dan ayat-ayat lain, menunjukkan bahwa amal-amal juga dapat memasukannya ke dalam surga. Tidak ada pertentangan dalam hadits-hadits tersebut. Namun makna ayat-ayat ini adalah bahwa masuknya (seseorang) ke dalam surga dengan sebab amal-amal (shalih), kemudian Allah memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk ikhlas dalam amalan tersebut. Diterimanya amal-amal itu dengan rahmat Allah ta’ala dan karunia-Nya. Maka benar bahwasanya seseorang tidak masuk surga dengan sekedar amalan semata. Itulah yang dimaksud dengan hadits-hadits. Dan benar pula bahwasanya seseorang masuk surga dengan sebab amal-amal dan itu termasuk rahmat. Wallahu’alam.” (Syarah Shahih Muslim, 17-160-161).

2. Imam Ibnu Katsir rahimahullah saat mengomentari surah Az-Zukhruf 72 berkata: “Yaitu amal-amal shalih kalian yang menjadi sebab kalian diliputi rahmat. Karena tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya semata, akan tetapi (ia masuk surga) karena rahmat dan karunia Allah. Hanya saja perbedaan derajat dapat diperoleh berdasarkan amal-amal shalihnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/239-240)

3. Ibnu Hajar Asqalany rahimahullah berkata: “Dan yang nampak bagiku dalam penjamakan antara ayat-ayat dan hadits adalah jawaban yang lain, yaitu membawa makna hadits bahwa amal itu sendiri tidak memberikan manfaat bagi pelakunya untuk masuk ke dalam surga selama tidak diterima (oleh Allah). Jika demikian, maka perkara diterimanya amalan oleh Allah ta’ala hanya dicapai dengan rahmat Allah bagi orang yang amalnya diterima. Oleh karena itu, makna firman Allah: “Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan,” (An-Nahl 32), yaitu yang engkau lakukan dari amal-amal yang diterima (oleh Allah).” (Fathul Baari, 11/296).

4. Ibnu Rajab rahimahullah mengomentari hadits di atas: “Ini menunjukkan kuatnya perhatian Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu terhadap amal-amal shalih. Dan dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa amal-amal shalih merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga, sebagaimana difirmankan Allah ta’ala: “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (Az-Zukhruf 72). Adapun sabda beliau : “Salah seorang di antara kalian tidak akan masuk surga dengan sebab amalnya”, maka maksudnya adalah – wallahu ‘alam – bahwa amal itu sendiri tidak membuat seseorang berhak mendapatkan surga seandainya Allah – dengan karunia dan rahmat-Nya – tidak menjadikannya (amal) sebab untuk itu. Dan amal itu sendiri termasuk rahmat Allah dan karunia-Nya terhadap hamba-Nya. Maka surga dan sebab-sebabnya semuanya termasuk karunia Allah dan rahmat-Nya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal-Hikam, hal. 604-605).

Penjelasan para ulama di atas saling menguatkan dan melengkapi. Surga bukanlah pengganti dari amal, karena ia tidak setara. Dzat amal ketaatan tidak menyebabkan pelakunya masuk surga, tanpa rahmat dan karunia-Nya. Namun seseorang yang melakukan amal ketaatan, maka ia akan diliputi oleh rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Al-A’roof 56)

“... dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’roof 156)

Kemudian dengan rahmat Allah juga dilipatgandakan pahala amal shalih –meski sedikit- dan menjadikannya sebab pelakunya ke dalam surga. Allah ta’ala berfirman: “Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil dzarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.” (An-Nisaa’ 40)

Rahmat Allah kepada penghuni neraka

Bahkan hanya dengan rahmat dan karunia Allah-lah, orang yang tidak pernah beramal kebaikan sedikitpun – selain amal ketauhidan – dimasukkan ke dalam surga setelah hangus terbakar di dalam neraka. Allah lipatgandakan amalan ketauhidan tersebut sehingga menyelamatkannya dari kekekalan neraka.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Bahwasannya pengecualian itu kembali pada orang yang bermaksiat dari orang-orang yang mentauhidkan Allah, yaitu dari kalangan orang-orang yang dikeluarkan Allah ta’ala dari neraka dengan syafa’at orang-orang yang dapat memberikan syafa’at dari kalangan malaikat, nabi, dan orang-orang mukmin, hingga mereka memberi syafa’at kepada para pelaku dosa besar. Lalu datanglah rahmat dari Allah Yang Maha Penyayang hingga dikeluarkanlah dari neraka orang-orang yang tidak pernah beramal kebaikan sedikit pun, namun pada satu waktu mereka pernah mengucapkan Laa Ilaha illallah (tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah), sebagaimana hal tersebut terdapat dalam hadits-hadits shahih yang berasal dari Rasulullah , dari hadits Anas, Jaabir, Abu Sa’iid, Abu Hurairah, dan yang lainnya dari kalangan shahabat radhiyallahu anhum. Tidaklah tersisa setelah itu di neraka, kecuali orang yang telah ditetapkan bagi mereka untuk kekal di dalamnya... “(Tafsir Ibnu Katsir, 7/473).

Kesimpulan hadits-hadits di atas memberikan pesan:

1. Masuk surga bagi seorang mukmin semata-mata karena anugerah dan rahmat Allah, bukan karena amal dan kesungguhannya dalam taat kepada Allah.

2. Hadits ini mengajak kita agar menyempurnakan amal dan ikhlas dalam beramal kepada Allah untuk meraih ridho-Nya.

3. Peringatan kepada seorang mukmin agar tidak mengandalkan amal shalihnya, akan tetapi ia harus mencari dan memohon ridho Allah dan diterimanya amal.

4. Amal shalih seseorang betapapun banyaknya, tidak menjadi penyebab ia masuk surga. Karena amal yang dilakukannya termasuk taufiq dan hidayah Allah kepada hamba-Nya sehingga juga termasuk anugerah dan rahmat-Nya.

5. Hadits di atas tidak memberikan pengertian bahwa Rasulullah tidak dijamin masuk surga. Hadits di atas memberikan pengertian, bahwa orang yang masuk surga adalah karena rahmat Allah. Sedangkan Rasulullah adalah rahmat Allah bagi umat manusia, jin, dan seluruh alam. “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiyaa 107).  Jadi Rasulullah tetap dijamin masuk surga, karena rahmat Allah yang dilimpahkan kepada beliau. (Al-hafizh Ibnu Hajar Asqalany, Fathul Baari, 12/252; Al-Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 17/131, Al-Shabuni, Al-Syarh Al-Muyassar li-Shahih Al-Bukhari, 5/250, 454).

Ibadah 500 Tahun Siang Malam Belum Menjamin Surga

Dalam sebuah hadits riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak yang cukup panjang, diriwayatkan dari Muhammad bin Munkadir, dan juga diriwayatkan oleh Jaabir, Rasulullah datang kepada kami, lalu beliau bersabda: “Baru saja Jibril datang kepadaku tadi, Jibril berkata: ‘Hai Muhammad, Demi Allah, bahwasanya ada seseorang melakukan ibadah kira-kira 500 tahun di atas puncak sebuah gunung yang luas, panjangnya 30 x 30 hasta, dan lautan yang melingkar di sekitarnya seluas 4.000 farsakh dari setiap penjuru, di bawah gunung tersebut terdapat sumber air jernih kira-kira satu jari lebarnya, dan terdapat pula pohon buah delima yang sengaja disediakan oleh Allah untuknya di mana setiap sore mengeluarkan buahnya satu biji, Setiap sore sesudah berwudhu, buah tersebut diambil dan dimakan, kemudian dia melakukan shalat seraya berdoa untuk memohon diambil nyawanya di tengah-tengah sujud, agar tubuhnya tidak tersentuh bumi atau yang lainnya, hingga ia bangkit di Hari Kiamat bersujud kepada Allah. Maka permohonannya dikabulkan Allah, karena itu setiap kami lewat (naik-turun langit) pasti dia sedang bersujud.’ Kemudian Jibril melanjutkan: ‘Kami temukan tulisannya (ceritanya) di Lauhul Mahfudz bahwa ia akan dibangkitkan kelak di Hari Kiamat dalam keadaan masih tetap bersujud dan diajukan kepada Allah. Firman-Nya: “Masukkanlah hamba-Ku ini ke surga karena rahmat-Ku.” Tetapi hamba itu menjawab: ‘melainkan karena amalku semata.’ Lalu Allah menyuruh malaikat untuk menghitung semua amalnya dibanding nikmat pemberian-Nya, dan ternyata setelah penghitungan total amalnya selesai, dan dimulai dengan menghitung nikmat mata saja, sudah melebihi pahala ibadahnya sepanjang 500 tahun. Padahal nikmat-nikmat yang lain-lainnya jauh lebih besar dan berharga. Lalu Allah berfirman: “Lemparkan ia ke dalam neraka.” Kemudian malaikat membawanya dan akan dilemparkan ke dalam neraka, tetapi di tengah perjalanan menuju neraka, ia menyadari kekeliruannya dan menyesal seraya berkata: ‘Ya Allah, masukkanlah aku ke surga karena rahmat-Mu.” Akhirnya Allah berfirman kepada malaikat: “Kembalikanlah ia.” Lalu ditanyailah si ahli ibadah ini: “Siapakah yang menciptakan kamu dari asalnya tiada?” Jawabnya: ‘Engkau ya Allah.’ “Lalu hal itu dikarenakan amalmu ataukah rahmat-Ku?” Jawabnya: ‘karena rahmat-Mu.’ “Siapakah yang menguatkanmu beribadah selama 500 tahun?” Jawabnya lagi: ‘Engkau ya Allah.’ “Dan siapakah yang menempatkanmu di atas gunung yang dikelilingi lautan, di mana di kaki gunung tersebut memancar sumber air tawar dan tumbuh pohon delima yang buahnya kau petik setiap sore, padahal delima hanya berbuah sekali dalam setahun, lalu kau minta dimatikan dalam keadaan bersujud, siapa yang melakukan itu semua?” Jawabnya: ‘Engkau ya Allah.” Firman-Nya: “Maka sadarlah kamu bahwa itu semua adalah semata karena rahmat-Ku, dan sekarang Aku masukkan kamu ke dalam surga semata karena rahmat-Ku.” Kemudian Jibril berkata: ‘Segala-galanya di alam ini bisa ada dan terjadi hanya karena rahmat Allah semata.”

Muhasabah

Mengapa ini semua bisa terjadi? Bukankah hamba itu sudah sedemikian rajinnya beribadah? Dari ini didapat beberapa pelajaran yang harus kita petik, di antaranya:

1. Jangan terjebak dengan sombong, ujub, riya’ dengan menyebut-nyebut dan membangga-banggakan amal ibadah kita. Kita semua tahu bahwa Iblis tadinya adalah sesosok bangsa Jin yang ahli ibadah dan taat pada perintah Allah, sehingga dia berhasil dipercaya menjadi pemimpin para malaikat di alam malakut. Banyak tugas dan perintah yang tak bisa dilakukan para malaikat, dapat diselesaikan oleh Azazil (nama Iblis ketika itu). Sekian juta tahun lamanya mengabdi kepada Allah, berprestasi mengagumkan sehingga oleh Allah dijadikan pemimpin para malaikat. Namun apa yang dicapainya itu, seketika hancur lebur oleh perasaannya yang merasa lebih baik dari semua makhluk Allah, termasuk kepada seorang manusia, manakala Allah ta’ala menciptakan Adam alaihis salam. Allah memerintahkannya bersujud kepada Adam, namun dia menolak. Allah berfirman kepada Iblis: “(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.” (Al-A’roof 12-13).

2. Agar kita merasa terus kurang beramal dan tetap beramal sebaik-baiknya. Seseorang yang sudah merasa cukup amal maka sadar atau tidak maka dia menjadi agak kendur beramalnya karena sudah merasa cukup atau kurang perlu beramal lagi.

3. Lupakan amal-amal baikmu, tapi ingatlah selalu dosa-dosamu. Ibarat pepatah: lupakanlah kebaikanmu, ingatlah kesalahanmu karena engkau tidak tahu apakah amalmu diterima atau tidak dan engkau pun tidak tahu dosa-dosamu apakah sudah diampuni Allah?

4. Sadar bahwa semua amal apapun yang telah kita lakukan maka tidak akan pernah dapat menebus satu saja nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Nikmat melihat (mata) misalnya. Dalam sebuah hadits para shahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, jika kau telah mencukupi semua kebutuhan orang tuaku, apakah itu berarti aku telah membalas jasa mereka? Rasulullah bersabda: “Tidak, sekali-kali kamu tidak akan pernah dapat membalas jasa kedua orang tuamu.” Jika membalas jasa pada kedua orang tua saja kita tidak akan pernah mampu, lalu dapatkah kita membalas jasa Allah yang telah diberikan kepada kita?

5. Yang telah 500 tahun beribadah, siang puasa malam shalat setiap hari dengan kualitas luar biasa saja belum tentu masuk surga, lalu bagaimana dengan kuantitas yang sedikit dan kualitas shalat kita yang sangat jauh di bawah itu? Badannya shalat, namun pikirannya melayang ke mana-mana? Zikir saja jarang apalagi puasa sepanjang ratusan tahun? Beranikah kita menuntut kepada Allah agar dimasukkan ke dalam surga?  

6. Lalu bagaimana orang Islam yang tidak peduli dengan agama, tidak merasa perlu dengan iman, tidak peduli dengan ilmu, tidak pernah shalat? Aurat terbuka? Tidak berkerudung? Gosip sana-sini? Ganggu pasangan orang melalui Facebook? Browsing gambar dan film tidak bermanfaat? Download gambar dan film porno? Mubazir waktu dan tenaga? Mari saudaraku kita sama-sama mengingati sesama muslim khususnya.

Mari tetaplah dalam harap dan cemas pada Allah. Berharap agar amal diterima, agar dosa diampuni, namun cemas karena kurang amal, amal tidak diterima, dan dosa tidak diampuni. Wallahu ‘alam bish-showab.

(Ustadz Abu Muhammad Jibriel AR)

(image from)


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Populer

Arsip

Label

Intermeso

Wawancara

Arsip

Artikel Terkini